Bagaimana rasa masakan yang kalian makan rasanya hambar, tidak ada rasa asin, manis atau pedas. Benar-benar tidak mendapatkan rasa enak dalam makanan tersebut.
Begitu pula dengan rumah tangga, terasa hambar. Tidak merasakan apa-apa dalam rumah tangga ku. Manisnya rumah tangga hanya ada dalam 2 atau 3 tahun pernikahan, merasakan sangat indahnya dalam rumah tangga mungkin di 1 tahun pertama. Masih terasa hangat, saling memberikan perhatian, saling melengkapi, saling mengerti, namun setelah 3 tahun pernikahan semua terasa hambar.
Sakit rasanya, hanya aku yang pertahan dengan rasa hambar tersebut. Semua makanan aku telan pahit-pahit tanpa merasakan kehambaran itu, padahal dari hati terdalam aku berontak. Pikiran ku terus berputar dengan banyak pertanyaan yang ingin aku ajukan, namun apalah daya semua ku simpan rapat-rapat demi menjaga rumah tanggaku.
Ada anak-anak yang selalu merindukan hadirnya, yang selalu menunggu kedatangannya, yang selalu menunggu untuk bermain dengannya, yang selalu menunggu untuk diajak bicara, dan yang selalu ingin mendapatkan perhatiannya.
Jangan kan anak-anak yang merindukannya begitu pun dengan aku, selalu menunggu dekapannya dan kasih sayangnya. Namun aku hempaskan semua perasaan itu, yang penting anak-anak mendapatkan apa yang mereka inginkan dari sosoknya.
Iya, sosok figur seorang ayah yang selalu aku rindukan. Yang selalu ingin aku rasakan dari dulu hingga sekarang, namun saat berumah tangga figur seorang ayah pun tidak aku lihat pada dirinya dalam hidupku.
Memiliki seorang ayah yang tidak pernah hidup satu atap dengan kita adalah hal yang hampa, memiliki rasa peduli terhadapnya, namun yang seharusnya semua rasa tertuju padanya itu tidak aku miliki. Hanya sekedar rasa kasihan dan peduli sekedarnya, mungkin sakit namun aku lebih sakit.
Maka dari itu, aku tidak ingin apa yang aku rasakan dahulu dirasakan oleh anak-anak ku.
No comments:
Post a Comment