Selesai menidurkan anak-anak biasanya aku ikut tertidur, namun malam ini mata sulit terpejam. Sekitar pukul 21.49 kepala ku mulai sakit dan pusing, segera ku charger handphone ku yang lobet. Kuraih bantal lalu memejamkan mata hingga tidur terlelap.
Setiap tengah malam aku selalu terbangun, ketika kantuk masih melanda aku hanya sekedar melihat waktu lalu ku tidur kembali. Malam ini waktu menunjukkan pukul 01.48 aku terbangun, saat terbangun terasa lelah, otak dan badan terasa cape. Entah karena efek dari ngopi tadi sore atau seharian aku terlalu lelah dengan kerjaan hingga saat mata terpejam pun otak masih mikir, entah ada sesuatu yang membuat hati gelisah.
Ku raih handphone genggam ku, sambil ku buka beberapa jejaring sosial media. Tanpa sadar waktu sudah menunjukkan pukul 02.59, ingin sekali ku pejamkan kembali mata ini namun saat mencoba memejamkan mata otak ku bercabang memikirkan ini dan itu sehingga tidak dapat lagi istirahat.
Padahal pagi ini masih masuk sekolah, ingin sekali beristirahat dari semua pikiran yang bercabang. Sudah hampir 3 Minggu suamiku tidak tidur dikamar, dia lagi ingin tidur di ruang tamu. Biasanya kalau lagi susah tidur lagi seperti ini yang aku cari kenyamanan, karena sedang ada tamu bulanan maka tidak dapat bercengkrama dengan-Nya di sepertiga malam-Nya. Lalu ku hampiri suami yang sedang tertidur pulas di ruang tamu, sambil berbisik "Baba, Umma gak bisa tidur lagi habis mendusin. Minta peluk" ujarku
Suami ku langsung berubah haluan, yang tadinya tertidur dalam posisi miring ke kanan kita menjadi nyelentang.
"Huft... Pengen di peluk malah nyelentang" ujarku dalam hati
Akhirnya aku yg memeluknya dan mencoba memejamkan mata, namun tetap tidak bisa terpejam. Tidak lama posisi suamiku berubah haluan lagi kearah kiri, langsung aku berubah posisi menghadap kiri juga dan suamiku tidur sambil memelukku erat. Terasa nyaman sekali, ku coba memejamkan mata kembali, perlahan-lahan terpejam hingga lelap.
Tidak lama mata terpejam, saat posisi sedang terlelap tidur terdengar suara menangis dari arah kamar. Salah satu anakku nangis, entah itu suara tangis Abang atau Ade. Langsung dengan mata terkantuk aku berlari ke kamar menghampiri anakku, ternyata Abang yang sedang menangis berlinang air mata. Ade nya masih tertidur lelap, segera aku seduhi susu di botolnya selesai membuat susu Abang kembali kurebahkan badanku diatas kasur tak lama hitungan detik adeknya bangun minta susu juga. Selalu begitu, mungkin dalam tidurnya dia mendengar ibunya membuat susu tapi ternyata susunya bukan untuk dia.
Lalu kubuatkan susu untuknya, mereka pun kembali memejamkan matanya. Aku kembali lagi merebahkan badanku, dengan keadaan kepala yang pening ingin sekali aku tertidur lelap. Ku coba memejamkan mata, 1 menit, 3 menit, 5 menit tiba-tiba alarm handphone suami ku berdering menunjukkan pukul 04.00 segera ku matikan alarmnya, Alhamdulillah anak-anak ku tidak terganggu dengan suara alarm itu.
Sebelum memejamkan mata, ku pandangi anak-anakku yang sudah terlelap tidur. Jadi inget tadi saat Abang nangis, dalam posisi aku yang tertidur diluar saat mereka menangis pendengaranku ternyata masih peka mendengarnya. Sedangkan suamiku mau tidur dalam satu kamar atau di ruang tamu saat anaknya menangis biasa saja. Mungkin itu kelebihan pendengaran dari seorang ibu, sangat luar biasa begitu pekanya kalau sudah mendengar suara anak.
Tidak lama, aku mencoba memejamkan mata kembali namun tetap sama pikiranku tidak ingin beristirahat. Mungkin karena ada yang mengganjal di pikiranku, karena ada ide-ide dan kosa kata yang sudah menampung lalu ku akhiri dengan membuka gadget dan ku tuangkan melalui tulisan.
Meski kepala terasa pening, setidaknya otakku sudah tidak berat menanggung yang ada didalamnya. Tidak terasa adzan subuh berkumandang, ku lihat suamiku sudah terbangun. Lalu ku bergegas ke kamar mandi persiapan berangkat kesekolah.
No comments:
Post a Comment