Kata orang menunggu itu satu hal yang menyebalkan, tapi bagi ku menunggu itu satu hal yang menyenangkan .
Menunggu kereta.
Menunggu mobil/motor online.
Menunggu air matang.
Menunggu ada yang ngirim pulsa atau kuota nyasar. 🙊
Kadang bosen kan? Itu Manusiawi, wajar-wajar saja namanya juga manusia pasti bisa mengalami titik jenuh pada masanya. Tapi, menurut ku 'menunggu' itu bisa dijadikan momen yang tepat buat muhasabah dan dzikir di sela-sela kekosongan waktu .
Pada hakikatnya kita hidup di dunia ini untuk menunggu hal yang sebenar-benarnya pasti datang, yaitu menunggu kapan Malaikat Izrail menjemput kita. Menunggunya itu adalah satu kenikmatan. Nikmat bila pada masa penantian itu kita isi dengan melakukan amal-amal shalih, bukankah itu menyenangkan jika tiap saat kita bisa dekat dengan-Nya?
Sambil menunggu kereta, baca shalawat.
Sambil menunggu air matang, baca dzikir.
Sambil menunggu ada pulsa/kuota nyasar? baca Qur'an.
Bagi sebagian orang, menunggu itu menyebalkan tapi bagi ku menunggu itu menyenangkan sebab saat itulah masa-masa keemasan untuk bisa memperbaiki diri. Menunggu ada yang lamar misalnya. Kan berabe kalo suatu waktu ada ikhwan shaleh yang ngetuk pintu rumah mau ngelamar, eh kitanya masih begajulan. Masa iya memperbaiki dirinya pakai sistem kebut semalam? Lah selama ini masa 'menunggu' itu dipake buat apa mba?
Saat menunggu dalam penantian sang Ikhwan Sholeh melamar harus penuh kebesaran jiwa, julukan ku pada saat masa penantian adalah "Jones". Pribahasa jones mungkin sudah tidak asing lagi untuk di dengar, terutama dikalangan remaja saat ini "Jones (jomblo ngenes").
"Ya Allah... Sesedih itukah masa penantian ku" ujarku dalam hati
Bertahun-tahun menanti dan bertemu dengan orang yang pernah singgah namun pada akhirnya mereka bukanlah jodohku. Selama masa penantian, aku mendekatkan diriku padaNya. Memperbanyak munajat, memperbaiki niat apa yang menjadi dasar berumah tangga. Bukan hanya semata nafsu belaka akan tetapi niat beribadah karena Allah.
Saat kita menginginkan sesuatu maka pada dasar sifat manusia adalah merengek bahkan menangis sampai sejadi-jadinya kepada ayah/ibu, itupun yang aku lakukan saat masa penantian. Benar-benar menikmati dan menjalani apa yang telah Allah gariskan dalam kehidupanku.
Aku adalah wanita yang tidak memiliki teman pria, namun hatiku sangat luas jika sudah menyayangi seseorang. Maka dari itu aku sangat menjaga dari berbagai rasa pada lawan jenis, dalam masa menunggu aku berusaha menjaga Izzah dan iffah sebagai muslimah. Aku yakin bagi para muslimah yang sedang dalam masa penantian atau menunggu Sang pangeran berkuda datang pasti bisa menjaga Izzah dan iffahnya. Gunakan masa dalam penantian mu dengan melakukan hal-hal yang positif, bersikap dan berpikir positif, insyaAllah takdir Allah akan datang di tempat waktu. Maka bersabarlah, kuatkan iman dan mendekatkan diri pada-Nya.
***
"Nidha....." Panggil ibu dari luar kamar
Panggilan terlembut yang sering aku dengar disetiap pagi ku. Suara lembut itu adalah milik ibuku, apalagi saat ibu sedang menasihati senang sekali mendengarnya. Meski sesekali terdengar teriakan dan cerewetnya ibu saat aku tidak merespon panggilannya dan melakukan kesalahan.
"Iya Bu"
Aku pun bergegas bangun dari tempat tidurku, lalu ku hampiri ibu dengan wajah kucel. Seperti biasa setiap paginya, aku selalu menemani ibu kepasar berbelanja kebutuhan dapur dan lauk pauk yang ingin dimasak pada hari ini.
"Cuaca hari ini sangat menyegarkan" gumamku dalam hati, sambil menghirup nafas panjang saat keluar dari pintu rumah. Pasar sudah ramai dari dini hari, kebetulan rumahku tepat depan pasar jadi tidak perlu jauh-jauh jalan kaki untuk berbelanja kebutuhan dapur.
Pasar tampak ramai hari ini, namun dimana-mana pasar selalu ramai. Ku langkah kan kaki ku perlahan demi perlahan mengikuti jejak kaki ibu ku, karena ibu yang tahu mau berbelanja apa saja kadang aku berjalan mengikuti ibu dari belakang karena kalau jalan berdampingan makan tepat.
Sambil berjalan aku sedikit cerita bahwa hari ini ada acara diluar untuk mengikuti seminar bersama saudara ku dan teman-temannya.
"Seminar apaan neng?" Tanya ibuku
"Seminar pra nikah Bu" jawabku sambil tersipu malu
Ibu hanya tersenyum mendengar jawabanku
Sesampainya di rumah, aku langsung bergegas mandi dan berpakaian rapih ala kadarnya dengan ciri khas berpakainku, gamis panjang sampai bawah mata kaki, hijab menutupi dada dan disilangkan kekiri menggunakan Bros hijab. Setelah rapih, aku berpamitan pada ibu.
Sesampainya di stasiun kalibata, aku dan saudara ku menunggu temennya sampai stasiun tujuan, tinggal beberapa stasiun. Panggil saja saudaraku 'sunny' dia adalah saudara terdekatku karena usia yang tak terlampau jauh antara aku dan saudaraku. Sambil menunggu kita cari jajan sambil mengecek tarif mobil online. Tidak lama kemudian temen sunny pun sudah ada dihadapan kita, dan lanjut ke perjalanan selanjutnya menggunakan mobil online agar sampai pada tempat acara.
Sesampainya pada gedung yang dituju, suasana tidak terlalu ramai. Akhirnya kita menuju tempat registrasi, setelah registrasi kita menuju ke tempat acara. Saat kaki melangkahkan kaki ruang aula, ternyata disana sudah padat dengan para akhwat dan Ikhwan. Pintu masuk akhwat dan ikhwan dipisah menuju aula, kita betpadat-padatan menuju aula sambil bergilir mendapatkan Snack. Tidak lama kemudian di belakang rombongan kita masih banyak rombongan lain yang baru pada datang, sungguh luar biasa seminar pra nikah yang di minati para akhwat dan Ikhwan ini.
Sampailah kita di posisi tempat duduk aula, ada 2 tingkat dalam bentuk lingkaran O tempat duduk aula tersebut. Karena tempat duduknya tidak teratur penempatannya maka dari kami ber 4 mencar dibagi 2. Posisi aku duduk baris kedua dari tempat duduk terakhir, saudaraku posisi dibelakangku.
Tiada yang terjadi di dunia ini tanpa sepengetahuan Allah Azza Wajalla, DIA tidak pernah tidur dan maha tahu dari apa yang tidak kita ketahui.
Pagi ini merupakan hal yang membuat diriku merasa kaku, hari minggu maupun hari libur lainnya memang terkesan membekukan aktivitas ku. saat sebagian manusia merasa bebas dengan liburnya aktivitas.
Langkah siang ini sangat bersahabat, buru-buru disapu setiap awan yang melintas menutupi kecerahan pandangan, tak sehelai pun tertinggal, sinar kuning merambat disetiap dinding kehidupan dengan perkasa. Beda denganku, hari ini bersemangat lembut melangkah pergi, ujung jilbab putih ini berkibar menggambar angin yang bergolak, ku mantap meniti langkah menuju rumah dengan berjalan kaki hanya butuh 20 menit sampai tujuan, cukup melelahkan namun inilah aku dan juga hidupku…
No comments:
Post a Comment