Tuesday, July 5, 2022

Hambar Rumah Tanggaku

Bagaimana rasa masakan yang kalian makan rasanya hambar, tidak ada rasa asin, manis atau pedas. Benar-benar tidak mendapatkan rasa enak dalam makanan tersebut.

Begitu pula dengan rumah tangga, terasa hambar. Tidak merasakan apa-apa dalam rumah tangga ku. Manisnya rumah tangga hanya ada dalam 2 atau 3 tahun pernikahan, merasakan sangat indahnya dalam rumah tangga mungkin di 1 tahun pertama. Masih terasa hangat, saling memberikan perhatian, saling melengkapi, saling mengerti, namun setelah 3 tahun pernikahan semua terasa hambar.

Sakit rasanya, hanya aku yang pertahan dengan rasa hambar tersebut. Semua makanan aku telan pahit-pahit tanpa merasakan kehambaran itu, padahal dari hati terdalam aku berontak. Pikiran ku terus berputar dengan banyak pertanyaan yang ingin aku ajukan, namun apalah daya semua ku simpan rapat-rapat demi menjaga rumah tanggaku.

Ada anak-anak yang selalu merindukan hadirnya, yang selalu menunggu kedatangannya, yang selalu menunggu untuk bermain dengannya, yang selalu menunggu untuk diajak bicara, dan yang selalu ingin mendapatkan perhatiannya.

Jangan kan anak-anak yang merindukannya begitu pun dengan aku, selalu menunggu dekapannya dan kasih sayangnya. Namun aku hempaskan semua perasaan itu, yang penting anak-anak mendapatkan apa yang mereka inginkan dari sosoknya.

Iya, sosok figur seorang ayah yang selalu aku rindukan. Yang selalu ingin aku rasakan dari dulu hingga sekarang, namun saat berumah tangga figur seorang ayah pun tidak aku lihat pada dirinya dalam hidupku.

Memiliki seorang ayah yang tidak pernah hidup satu atap dengan kita adalah hal yang hampa, memiliki rasa peduli terhadapnya, namun yang seharusnya semua rasa tertuju padanya itu tidak aku miliki. Hanya sekedar rasa kasihan dan peduli sekedarnya, mungkin sakit namun aku lebih sakit.

Maka dari itu, aku tidak ingin apa yang aku rasakan dahulu dirasakan oleh anak-anak ku.

Kurangku Kurangmu


Setiap pasangan memiliki kekurangan masing-masing, begitu pula dengan diriku atau dirimu. Aku memiliki kekurangan dan kau pun punya kekurangan, jika kita saling melengkapi maka tertutuplah kekurangan terebut.

Cinta seharusnya seperti itu, jika pasangan kita memiliki kekurangan maka dengan lapang dada harus menerima kekurangannya. Karena, tidak ada makhluk sempurna di muka bumi ini. Kesempurnaan hanya milik Allah, sebagai manusia yang dhaif pasti banyak kurangnya.

Adakalanya terdapat pasangan suami istri yang tidak menerima kekurangan pasangannya masing-masing sehingga sering terjadi pertikaian-pertikaian kecil dalam rumah tangganya. Jika kita dapat memaknai pertikaian itu sebagai bumbu rumah tangga, maka amanlah rumah tangganya. Namun, jika sebaliknya terus memperpanjang setiap masalah-masalah kecil mau dibawa ke mana nasib rumah tangganya.

Kekuranganku dan kekuranganmu telah menyatukan kita menjadi satu. Kelebihan mu melengkapi kekuranganku dan kelebihanku melengkapi Kekuranganmu, begitu seharusnya. Semoga bumbu-bumbu manis rumah tangga ini selalu menjadikan kita pribadi yang lebih baik lagi, pribadi yang kuat, sabar dan selalu memberikan semangat dalam menggapai ridha-Nya.

Dear Suamiku

Maafkan aku atas salahku

Maafkan aku atas sikapku

Maafkan aku atas perkataan ku

Maafkan aku atas semuanya

Aku hanyalah manusia biasa

Aku hanyalah perempuan pada umunya

Aku ingin diperhatikan

Aku ingin disayang

Aku ingin dimengerti

Aku ingin didengar

Aku ingin dilihat

Aku tahu banyak kurangku

Aku tahu banyak salahku

Jika semua inginku tidak dapat kau berikan

Satu yang ingin aku harapkan dari mu

Cinta dan kasih sayangmu padaku

Jika kau cinta, mungkin aku tak diacuhkan

Jika kau sayang, kau takkan membuatku menangis

Hanya itu inginku

Sayangku...

Percayalah perasaanku tidak berubah kepadamu

Cinta ku tidak memudar meski sudah dimakan waktu

Aku tetap seperti dulu

Aku Perempuan yang selalu mencintaimu

Aku yang selalu menyebut namamu dalam doaku

Seperti janjiku kepadaNya

Bahwasannya aku menikah karena ingin menyempurnakan separuh agamaku

Semoga kelak kau dapat membaca tulisanku

Semoga esok, lusa, dan hari-hari berikutnya kau paham perasaanku

Semoga esok, lusa, dan hari-hari berikutnya aku dapati dirimu yang berubah jadi lebih baik lagi

Semoga esok, lusa dan hari-hari berikutnya kau dapat mencintai dan menyanyangiku dengan penuh kasih

Semoga esok, lusa dan hari-hari berikutnya kau telah menjadi ayah yang baik buat anak-anak kita

Terima kasih sayang untuk semua waktu kebersamaan kita

Terima kasih atas perasaanmu

Aku istri dan ibu dari anak-anakmu


Jakarta, 20 Maret 2022


Rabu Malam

Selesai menidurkan anak-anak biasanya aku ikut tertidur, namun malam ini mata sulit terpejam. Sekitar pukul 21.49 kepala ku mulai sakit dan pusing, segera ku charger handphone ku yang lobet. Kuraih bantal lalu memejamkan mata hingga tidur terlelap.

Setiap tengah malam aku selalu terbangun, ketika kantuk masih melanda aku hanya sekedar melihat waktu lalu ku tidur kembali. Malam ini waktu menunjukkan pukul 01.48 aku terbangun, saat terbangun terasa lelah, otak dan badan terasa cape. Entah karena efek dari ngopi tadi sore atau seharian aku terlalu lelah dengan kerjaan hingga saat mata terpejam pun otak masih mikir, entah ada sesuatu yang membuat hati gelisah.

Ku raih handphone genggam ku, sambil ku buka beberapa jejaring sosial media. Tanpa sadar waktu sudah menunjukkan pukul 02.59, ingin sekali ku pejamkan kembali mata ini namun saat mencoba memejamkan mata otak ku bercabang memikirkan ini dan itu sehingga tidak dapat lagi istirahat. 

Padahal pagi ini masih masuk sekolah, ingin sekali beristirahat dari semua pikiran yang bercabang. Sudah hampir 3 Minggu suamiku tidak tidur dikamar, dia lagi ingin tidur di ruang tamu. Biasanya kalau lagi susah tidur lagi seperti ini yang aku cari kenyamanan, karena sedang ada tamu bulanan maka tidak dapat bercengkrama dengan-Nya di sepertiga malam-Nya. Lalu ku hampiri suami yang sedang tertidur pulas di ruang tamu, sambil berbisik "Baba, Umma gak bisa tidur lagi habis mendusin. Minta peluk" ujarku

Suami ku langsung berubah haluan, yang tadinya tertidur dalam posisi miring ke kanan kita menjadi nyelentang. 

"Huft... Pengen di peluk malah nyelentang" ujarku dalam hati

Akhirnya aku yg memeluknya dan mencoba memejamkan mata, namun tetap tidak bisa terpejam. Tidak lama posisi suamiku berubah haluan lagi kearah kiri, langsung aku berubah posisi menghadap kiri juga dan suamiku tidur sambil memelukku erat. Terasa nyaman sekali, ku coba memejamkan mata kembali, perlahan-lahan terpejam hingga lelap.

Tidak lama mata terpejam, saat posisi sedang terlelap tidur terdengar suara menangis dari arah kamar. Salah satu anakku nangis, entah itu suara tangis Abang atau Ade. Langsung dengan mata terkantuk aku berlari ke kamar menghampiri anakku, ternyata Abang yang sedang menangis berlinang air mata. Ade nya masih tertidur lelap, segera aku seduhi susu di botolnya selesai membuat susu Abang kembali kurebahkan badanku diatas kasur tak lama hitungan detik adeknya bangun minta susu juga. Selalu begitu, mungkin dalam tidurnya dia mendengar ibunya membuat susu tapi ternyata susunya bukan untuk dia.

Lalu kubuatkan susu untuknya, mereka pun kembali memejamkan matanya. Aku kembali lagi merebahkan badanku, dengan keadaan kepala yang pening ingin sekali aku tertidur lelap. Ku coba memejamkan mata, 1 menit, 3 menit, 5 menit tiba-tiba alarm handphone suami ku berdering menunjukkan pukul 04.00 segera ku matikan alarmnya, Alhamdulillah anak-anak ku tidak terganggu dengan suara alarm itu.

Sebelum memejamkan mata, ku pandangi anak-anakku yang sudah terlelap tidur. Jadi inget tadi saat Abang nangis, dalam posisi aku yang tertidur diluar saat mereka menangis pendengaranku ternyata masih peka mendengarnya. Sedangkan suamiku mau tidur dalam satu kamar atau di ruang tamu saat anaknya menangis biasa saja. Mungkin itu kelebihan pendengaran dari seorang ibu, sangat luar biasa begitu pekanya kalau sudah mendengar suara anak.

Tidak lama, aku mencoba memejamkan mata kembali namun tetap sama pikiranku tidak ingin beristirahat. Mungkin karena ada yang mengganjal di pikiranku, karena ada ide-ide dan kosa kata yang sudah menampung lalu ku akhiri dengan membuka gadget dan ku tuangkan melalui tulisan.

Meski kepala terasa pening, setidaknya otakku sudah tidak berat menanggung yang ada didalamnya. Tidak terasa adzan subuh berkumandang, ku lihat suamiku sudah terbangun. Lalu ku bergegas ke kamar mandi persiapan berangkat kesekolah.

Aku si Pencemburu


Setiap wanita pasti memiliki rasa cemburu dalam hatinya, bisa di pertanyakan jika dalam hubungan tidak memiliki rasa cemburu. Apakah dia mencintaiku? Apakah dia menyanyangiku? Menurutku selama rasa cemburu itu masih dalam hal wajar tidak berlebihan tidak jadi masalah.

Aku adalah termasuk wanita pencemburu, bahkan setiap istri memiliki cemburu terhadap suaminya, begitupun sebaliknya. Mungkin hanya beda mengungkapkan perasaan tersebut, jika wanita bisa dari sikap dan melalui kata-kata. Entah jika dengan pria, karena aku tidak pernah melihat atau mendengar kata cemburu dari suamiku. Bukan berarti aku ingin dicemburui, aku hanya ingin tahu perasaannya terhadapku. Mencintai atau menyanyangi kah dia terhadapku?


Aku selalu berpikir keras, mungkin rasa cinta atau sayangnya tidak dia ungkapkan melalui verbal melainkan tindakan. Suamiku selalu membantuku dalam urusan rumah tangga, entah itu mencuci pakaian, membersihkan rumah dan menjaga anak. Ada sesekali aku ingin mendengar dari mulutnya dan membisikan "I Love You Umma", ingin sekali melihat sikap hangat terhadap ku dengan sebuah tatapan. Aku tidak berekspektasi tinggi dengan ucapan-ucapan manis atau dengan diberi kejutan darinya, cukup dengan hal diatas sudah membuatku bahagia.


Aku tidak mempermasalahkan sikapnya terhadapku saat didekati selalu menghindar dan merasa risih dekatku, sejauh ini aku bisa memaklumi. Melalui tulisan ini aku hanya ingin mengungkapkan perasaan ku, bahwasannya "aku selalu mencintaimu", aku mencintaimu dalam keadaan apapun. Jika sikapku selalu salah "maafkan aku" jika ucapku salah "maafkan aku". Perasaan ku selalu sama dari pertama namaku disebut depan penghulu bahkan hingga saat ini tidak berubah. Karena dirimu adalah jawaban dari doa-doaku sepanjang malam, yang selalu ku pinta pada Sang Murobi.


Dalam rumah tangga tidak ada yang baik-baik saja, jika pada fase aku sedang tidak baik-baik saja aku selalu memikirkan dan membayangkan saat-saat dalam masa penantian dan dirimu datang kepada waliku. Aku selalu melihat saat-saat aku menjaga hatiku hanya untukmu, selalu melihat saat-saat aku memohon dan meminta kepada DIA.


Aku selalu meminta dalam setiap sujudku, jatuh cintakanlah suamiku terhadapku setiap harinya, berikanlah perasaan sayang terhadapku setiap harinya, jadikanlah aku istrinya orang yang sangat menarik dilihat olehnya, jadikanlah aku istrinya orang yang selalu ada dipikirannya, jadikanlah aku istrinya satu-satunya wanita yang mendampinginya. Dengan keridhaan Nya aku selalu meminta dengan hal baik, agar Allah pun paham. Bahwasannya tidak ada kecintaan yang dapat melawani rasa cinta Allah terhadap hambaNya, aku tidak ingin Allah cemburu karena DIA adalah Maha pencemburu, maka itu aku hanya menitipkan dan meminta melaluiNya.


SUAMIKU SAYANG...

Baba ku tercinta

Ayah anak-anakku

Tahukah dirimu aku mencintaimu

Tahukah dirimu aku menyayangimu

Tahukah dirimu aku adalah jawaban dari doamu

Dan dirimu adalah jawaban dari doaku

Maafkan aku jika terdapat banyak kesalahan pada diriku

Aku yakin dirimu mencintaiku

Aku yakin dirimu menyayangiku

Aku yakin hatimu untukku

Aku yakin dirimu selalu ada untukku

Meski tidak terlihat dalam bahasa verbal

Aku sangat yakin dengan hatimu

Aku mohon, jagalah keyakinan ku ini wahai suamiku

Aku terlalu takut untuk mengungkapkan perasaanku

Aku terlalu takut dengan hatiku

Semoga cinta kita selalu terjaga

Semoga cinta kita diridhai oleh alam semesta

Mari menua bersama denganku

Hingga bersatu kembali di syurga-Nya.

Rasa


Pernahkah kau melihat perasaanku, hatiku

Pernahkah kau menolah hanya untuk memandangku

Pernahkah kau mencoba untuk tahu isi hatiku

Pernahkah kau memandangku hanya untuk melihatku

Pernahkah...

Pernahkah kau mencintaiku

Pernahkah kau menyanyangiku

Pernahkah kau Peduli padaku

Pernahkah kau memahamiku

Pernahkah...

Saat cinta hanya bertepuk sebelah tangan, semua terasa hampa

Tidak ada rasa menyayangi

Tidak ada rasa mencintai

Tidak ada rasa memiliki

Tidak ada rasa sedikitpun, itu sangat menyakitkan

Jika kau tau rasaku

Apakah kau akan melihat atau memandangku hanya sekejap

Tidak perlu kata-kata manis

Hanya melihat dengan tatapan penuh kasih sayang sudah membuktikan akan sebuah perasaan

Aku hanya bisa terdiam

Aku hanya bisa menghela nafas

Aku hanya bisa menangis

Aku hanya bisa memendam

Hingga rasa ini menjadi rasamu

Semoga kelak kau dapat merasakan apa yang pernah aku rasakan


Tuesday, June 14, 2022

Hari Pertama

Selama satu tahun tidak menginjkkan kaki disekolah manapun, hari ini aku menginjakkan kaki di sekolah pamanku. Selama satu tahun setelah melahirkan anak ke-2 aku risegn dari dunia pendidikan karena ingin fokus dengan kedua anakku yang masih kecil. kebetulan jarak usia mereka hanya 15 bulan, maka dari itu aku mengambil keputusan untuk risegn untuk beberapa tahun. Namun ternyata takdir berkata lain, setelah 1 tahun risegn aku harus menginjkkan kakiku di sekolah SDN Sumur Batu 01 dimana sekolah tersebut adalah tempat pamanku mengabdi selama 15 tahun.
02 Maret 2020 beliau menghembuskan nafas terakhirnya, sebelum ajal menjemput beliau memberikan mandat kepada saya untuk memegang kelasnya. atas izin kepala sekolah akhirnya aku mulai menginjkkan kakiku. 

Kenangan Terindah

 Pernahkah kau mengagumi atau menyukai seseorang? Apa yang kau lakukan ketika mengagumi atau menyukai seseorang? Yah... Setiap orang memilik...